Bisnis Berorientasi Pasar: Secuil Tinjauan Februari 5, 2008
Posted by amirmahmuds in Strategi.Tags: market-oriented business
trackback
Sering kita dengar bahwa bisnis yang berhasil itu salah satunya dapat dicapai jika konsep bisnis tersebut berorientasi pasar. Apa itu bisnis yang berorientasi pasar (market-oriented) ? Banyak pakar mendefinisikan istilah ini, namun dari konteksnya mungkin pembaca sudah bisa menebak. Definisi sederhananya merupakan bisnis yang dijalankan dengan memperhatikan arah pergerakan atau permintaan pasar. Namun yang menarik untuk dikaji adalah variabel apa saja yang terkandung dalam istilah ini? banyak pakar yang merinci variabel-variabel tersebut. Namun ringkasnya seperti yang sering digunakan oleh peneliti dalam risetnya (seperti Antonopoulos, 2000), setidaknya ada 3 (tiga) variabel didalamnya yaitu: 1) berorientasi pelanggan, 2) berorientasi pesaing, dan 3) koordinasi antar fungsi internal.
Jadi, jika ada bisnis yang hanya menekankan pada orientasi pelanggan, sebenarnya mereka belum murni berorientasi pasar. Dan lagi, jika ada bisnis yang semata hanya melihat manuver dari pesaing dan kemudian melakukan reaksi, sebenarnya mereka juga belum murni berorientasi pasar. Selain itu, jika ada bisnis yang hanya berkutat melakukan koordinasi antar fungsi internal namun reaksi sering terlambat ketikan memahami pelanggan maupun pesaing, mereka juga belum dikategorikan berorientasi pasar. Lantas mana yang benar? Sebenarnya tidak ada bisnis yang dianggap 100% benar, namun yang terpenting adalah prioritas, yaitu kapan kita memprioritaskan orientasi pelanggan, pesaing atau koordinasi antar fungsi. Hal ini tergantung konteks kekinian yang dialami perusahaan. Berusaha mengejar ketertinggalan dari pesaing padahal pelanggan sudah merasa cukup puas dengan produk/layanan yang ada sebenarnya bukanlah moment yang tepat untuk berorientasi pesaing.
Bisa dicontohkan dalam hal ini seperti dalam bisnis teknologi (hardware komputer), pelanggan pada dasarnya mungkin sudah merasa tercukupi kebutuhan desktop publishing (misalnya) dengan komputer berkecepatan Processor P4, namun vendor (Intel dan AMD) saling berlomba-lomba (dalam hal ini saling berorientasi pesaing) untuk meluncurkan processor sekelas Core 2 Duo bahkan Core 2 Quad. Di satu sisi pelanggan diuntungkan karena cepat mendapat teknologi terbaru, namun di sisi lain pelanggan bisa dirugikan karena nilai jual kembali cepat turun. Fenomena ini juga terjadi seperti dalam bisnis otomotif. Sebenarnya produsen belum perlu untuk berlari terlalu kencang kalau konsumen masih jalan pelan. Ada pendapat lain?











sebenarnya bukan hanya itu saja yg di dunia bisnis,pada saat ini yg lebih di butuhkan adalah suatu bisnis yg memberikan suatu inovasi baru( lain dari yg lain ),mempunyai suatu nilai ekonomis dimana kalangan bawah bisa ikut berpartisipasi dalam peningkatan taraf hidup,mempunyai nilai pendidikan dan ramah lingkungan